Selasa, 21 Februari 2017

Welcome
This story I present to my father that have been passed away since 2009. He is a very great father and I love him forever and ever. I will meet him again one day, in paradise. Im sure, he is happy there. I miss you papa...
It success to be one of contributor in short story theme "father".


SAAT KEHILANGAN AYAH
            Langit begitu cerah saat itu, udara juga terasa panas. Ayah datang dengan keringat di seluruh tubuhnya. Ia baru saja selesai memperbaiki mobil kampas besar yang digunakannya sehari-hari untuk mencari nafkah. Yah, ayah bekerja sebagai seorang salesman, yang menjual kebutuhan-kebutuhan domestik secara grosir di kampung-kampung. Biasanya ayah membeli barang di kota dan mendistribusikannya ke desa-desa. Dulu, ayah bekerja dengan seorang peranakan Cina. Namun sekarang, ayah lebih mandiri. Berkat kerja keras dan perjuangan ayah, ia bisa menjalankan usahanya sendiri dan mencukupi kebutuhan keluarga.           Ayah pun duduk dan beristirahat di warung kecil kami. Kami punya warung kecil didepan sekolah, seperti kantin. Karena kami sudah mulai besar, ayah menyuruh ibu berjualan. Lagian ibu juga bosan berada di rumah seharian. Ayah lalu menghampiri ibu dan membantu ibu melayani pembeli yang cukup banyak saat itu hingga ibu kewalahan.
            “Kenapa kau membantuku?Kau kan baru habis bekerja, kau pasti kecapekan” tanya ibu pada ayah.          
            “Aku tidak ingin melihatmu kelelahan.” kata ayah. Ibu pun tersenyum. Ibu sangat beruntung memiliki ayah. Ayah adalah orang yang paling baik didunia ini.
            Suatu malam, saat kami semua berkumpul bersama, ayah menceritakan pada kami sebuah kisah tentang telur cicak di kecap asin.
            “Dulu, waktu ayah kecil ayah pernah makan kecap asin yang karena sudah lamanya, telur cicak pun bersarang disana. Keluarga ayah dulu sangat miskin, kami bahkan sering makan hanya dengan nasi dan kecap asin. Jadi ayah tidak mau kalian merasakan apa yang ayah rasakan. Ayah akan bekerja keras untuk kalian.” kata ayah dengan matanya yang bersinar.Ia melihat kami satu persatu. Saat itu aku bahkan tidak tahu bahwa sinar mata itu adalah untuk yang terakhir kalinya. Ayah memang seorang pekerja keras. Sedari tamat Sekolah Dasar ayah tidak lagi sekolah dan memilih untuk bekerja. Padahal, ayah anak yang pintar. Ayah juga sebenarnya dapat beasiswa untuk masuk SMP Favorit saat itu, tapi ayah yang baik memikirkan saudaranya yang banyak. Ia lebih memilih untuk bekerja saja demi memenuhi kebutuhan keluarga, ia tidak ingin adik-adiknya hidup lebih menderita. Lama-kelamaan ayah menjadi tulang punggung keluarga walaupun ia masih anak-anak. Dan itu terus berlanjut hingga ayah dewasa dan menikah dengan ibu. Kami semua pun lahir, aku beserta dua kakakku dan satu adik laki-lakiku yang tampan. Kami semua ada empat.
            Aku masih duduk di kelas dua SMP saat itu ketika ibuku datang ke sekolah dan menangis di kantor. Seorang guru bahasa inggris yang dekat denganku ditugaskan untuk memanggilku ke kelas.
            “Fitri ambil tasmu dan ikuti bapak ke kantor.” katanya. Aku yang saat itu sedang gembiranya bermain dengan temanku merasa cukup jengkel, kenapa aku disuruh pergi ke kantor. Namun, kuturuti saja perkataan guruku dan aku mengikutinya. Aku sama sekali tidak punya firasat buruk. Ketika aku dekat dengan kantor, sebuah suara isak dan tangis kudengar. Hatiku mulai gaduh, siapa yang menangis? Apa yang terjadi? Aku pun mempercepat langkahku. Kulihat ibuku sedang menangis didepan semua guru-guruku. Dan ketika melihatku ia semakin menangis keras.
            “Fitri, sekarang juga kita harus pergi melihat ayahmu. Udakmu (dalam bahasa Mandailing artinya adik dari ayah) menelepon dan bilang kalau ayah tidak sadarkan diri, dan ia berada di rumah sakit Panyabungan sekarang. Kita harus pergi.” kata ibu. Aku terkejut, syock, atau mungkin speechless. Aku tidak bisa berkata apa-apa, tapi aku merasakan seperti sebuah petir menyambarku. Jantungku berdebar kencang, apa yang terjadi pada ayahku? Aku melihat mata ibu yang merah penuh air mata yang mendesak. Aku memang tidak menangis, tapi aku bahkan tidak sadar saat ibu menarik lenganku dan kami langsung menaiki mobil dan berangkat ke Panyabungan. Jarak dari kota kami ke rumah sakit tempat ayah dirawat sekitar dua jam. Namun selama perjalanan, aku bahkan tidak merasakan diriku berada di mobil, aku seperti melayang. Pikiranku entah kemana. Yang aku ingat adalah aku terus berdoa. Melihat kedepan dengan pandangan nanar, dan terus menerus merapal doa. Aku ingin tidak terjadi apa-apa pada ayahku. Tuhan, jangan lakukan apapun pada ayahku.
            Tiba dirumah sakit, udakku dengan tangis dan jeritan histeris menyambut kami. Ia memeluk tubuh kami satu persatu.
            “Aku akan menjadi ayah kalian. Aku yang akan menjadi ayah kalian.” katanya. Aku semakin syock. Apa yang terjadi? Aku bahkan belum melihat dimana ayahku. Seorang perawat lalu membimbing langkah kami untuk menuju ke sebuah ruangan. Ruangan itu penuh bau alkohol dan bau obat. Seseorang yang sangat kukenal terbaring disana. Dengan kedua tangannya di lipat dan mata yang tertutup. Bibirnya kaku dan biru, dan selembar kain putih menyelimuti seluruh tubuhnya hingga ke dada. Aku tahu itu ayahku, apa yang mereka lakukan pada ayahku?
            “Bersabarlah. Beliau sudah tidak ada. Kalian harus tabah. Ucapkanlah kata terakhir untuknya, mungkin ia masih bisa mendengarnya.” kata seorang dokter. Aku yang serasa tersambar petir semakin merasa syock. Tidak. Aku tidak percaya. Ibuku menangis dan memeluk juga mencium ayahku. Kedua kakakku pun menangis, adikku yang masih kecil hanya bisa melongo, ia masih belum mengerti drama apa yang terjadi diruangan ini. Namun aku? Aku tidak menangis, tidak pula memeluk dan mencium ayahku. Aku berlari ke musholla dan segera sholat. Aku berdoa dan berharap agar semua ini hanyalah sandiwara, semua ini tidak nyata, dan bahkan ini hanya mimpi. Ketika aku kembali nanti aku percaya kalau ayahku akan hidup kembali, bukankah kalau kita berdoa pada Allah maka Ia akan mengabulkannya? Aku pun kembali keruangan namun jasad ayahku tetap berada disana. Matanya tetap tertutup dan tubuhnya semakin dingin. Saat itu aku baru sadar, tangisku pecah, aku gemetar. Lalu tak kurasakan apa-apa lagi. Aku seperti terhempas ke sebuah lautan yang luas, udara seakan menguap dan aku tidak bisa bernapas. Namun ayahku, tidak pernah kembali lagi.
            Hari, bulan, dan tahun pun berlalu. Kami menjalani hidup tanpa ayah. Tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga beralih pada ibu. Namun, ibu tidak setegar yang kami inginkan. Ibu menikah dengan seorang laki-laki di tahun ketiga jandanya. Kami tidak setuju, namun apa boleh buat, ibu mengambil jalannya sendiri. Dan aku?
            Dulu aku adalah seorang yang tidak pernah juara dikelas. Entah kenapa, setelah kepergian ayah aku menjadi cewek pendiam. Aku lebih suka menyendiri dan mengurung diri di kelas. Saat istirahat aku pun tidak bergabung dengan teman-temanku. Waktuku pun kuhabiskan untuk menyendiri, dan disela kesendirianku itu aku lebih suka belajar. Prestasiku meningkat drastis, aku pun mendapat juara kelas. Tidak hanya itu, aku juga mengikuti beberapa perlombaan bahasa inggris dan juga cerdas cermat. Aku sering menjuarai lomba dan masuk ke perguruan tinggi negeri yang aku inginkan. Di perguruan tinggi prestasiku semakin gemilang, aku bahkan menjadi Mahasiswa Berprestasi di Fakultas, juga menjuarai debat mahasiswa, lomba cipta, cerpen, surveyor, peraih empat kali beasiswa berturut-turut, penulis novel, penggiat bahasa inggris, dan yang lainnya.
            “Juara 1 mahasiswa berprestasi tahun ini adalah Fitri Haryani Nasution!” suara itu menggema diruangan dan semua orang bertepuk tangan.Aku melihat semua mata yang bersinar disana melihatku dengan tatapan bangga. Saat itu juga aku teringat pada sinar mata ayahku. Tidak ada yang seindah sinar ayahku. Aku berusaha menahan airmataku yang tiba-tiba mendesak keluar. Aku melihat langit biru, dan menatap keatas. Aku percaya dimanapun ayah berada, ia juga pasti sedang menatapku dengan sinar matanya yang indah. Semua orang terus mengelukan namaku.
            Namun dibalik semua itu, aku sering merasa kesepian. Entah kenapa perasaan setelah kehilangan ayah tetap saja membekas di hatiku. Sering aku menangis disela kesendirianku dan berpikir tentang apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku pun menggunakan waktuku untuk menulis, jika aku merasa sepi dan sedih aku lebih baik menulis dan mencurahkan perasaanku. Aku lebih suka berbicara dalam cerita daripada berbicara dengan teman-temanku. Aku hanya tidak ingin orang sekitarku melihatku lemah, dan hanya tulisanku yang tahu selemah apa diriku. Mungkin orang-orang diluar sana melihat aku sebagai perempuan pejuang, perempuan pintar dengan bakatnya yang mengagumkan. Tapi, di sisi yang berbeda, aku hanyalah perempuan lemah yang merasa kesepian. Perasaan ini terus berlanjut saat setelah kehilangan ayah. Aku belajar suatu hal.
            “Orang datang dan pergi tanpa bisa diperkirakan. Pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Aku bahkan takut untuk jatuh cinta, karena aku tak cukup kuat untuk menahan sakit yang kurasakan setelah cinta itu pergi. Kapan semua ini akan berakhir? Kapan seseorang itu tidak lagi meninggalkanmu? Aku sadar, orang akan terus datang dan pergi dalam kehidupan yang fana ini. Hingga kau sendiri yang pergi selamanya meninggalkan mereka. Dan saat itu kau tidak akan tersakiti, tapi merekalah yang akan menangis karenamu.”
            Aku mencintaimu selalu ayah. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik dalam hidupku. Dan suatu hari nanti, ketika aku sudah lelah dengan orang-orang yang selalu meninggalkanku seperti dirimu, maka aku akan meninggalkan mereka. Dan berharap bisa kembali bersamamu.